Sosialisasi dan Edukasi Pertanian Zero Waste Dorong Kemandirian Pangan Kelompok Tani Lembah Subur Desa Morome

Tim PKM memperkenalkan integrasi pertanian organik sayuran dan ternak ayam kampung sebagai langkah nyata menuju sistem pangan desa yang mandiri, produktif, dan minim limbah.

HaluOleoNews.ID, MOROME – Tim Pengabdian Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun 2026 melaksanakan kegiatan sosialisasi dan edukasi pertanian Zero Waste kepada Kelompok Tani Lembah Subur di Desa Morome, Minggu (7/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program bertajuk “Integrasi Sistem Pertanian Organik Sayuran dan Ternak Ayam Kampung untuk Mewujudkan Kemandirian Pangan Berbasis Zero Waste dan Peningkatan Kesejahteraan Kelompok Tani Desa Morome.”

Kegiatan berlangsung dalam suasana terbuka, akrab, dan partisipatif. Para peserta mendapatkan pemahaman mengenai pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan agar tidak terbuang percuma, melainkan dapat diolah kembali menjadi sumber daya yang bernilai produktif.

Materi yang disampaikan menitikberatkan pada pengolahan sisa sayuran, kotoran ayam, serta berbagai bahan organik lainnya sebagai bagian dari sistem pertanian terpadu yang berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan siklus produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Ketua Tim PKM, Eko Aprianto Johan, S.P., M.P., menjelaskan bahwa konsep pertanian Zero Waste dapat membantu petani menekan biaya produksi sekaligus memperkuat kemandirian pangan. Menurutnya, limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi pupuk organik maupun sumber daya lain yang mendukung kegiatan usaha tani.

Sementara itu, anggota tim, Widhii Kurniawan, S.Pt., M.Si., memperkuat materi terkait integrasi ternak ayam kampung dalam sistem pertanian organik. Sedangkan H. Herman Titop, S.E., M.Si., memberikan penguatan mengenai kelembagaan kelompok tani serta peluang peningkatan nilai ekonomi usaha berbasis pertanian terpadu.

Sesi edukasi pertanian zero waste bersama peserta Kelompok Tani Lembah Subur.

Eko Aprianto Johan menambahkan, program tersebut sejalan dengan Asta Cita Pemerintah Pusat, khususnya poin kedua yang menekankan pentingnya swasembada pangan dan penguatan ekonomi hijau.

Ia menjelaskan bahwa tekanan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dapat berdampak pada kenaikan harga pupuk dan pestisida kimia yang sebagian bahan bakunya masih bergantung pada impor. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi yang harus ditanggung petani.

“Karena itu, kami mendorong pemanfaatan bahan-bahan lokal sebagai strategi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap input kimia. Langkah ini sekaligus mendukung sistem pertanian yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Kelompok Tani Lembah Subur diharapkan mampu menerapkan sistem pertanian organik sayuran dan ternak ayam kampung secara terpadu sehingga dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, serta kesejahteraan petani.

Tim PKM juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat atas dukungan pendanaan yang telah diberikan sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Desa Morome. (*)

Follow Publikasi Kami di Google News: Klik Haluoleo News    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *