Dosen UHO Ini Jadi Pembicara pada Icelam di Malaysia

#Bicara Peran Kepemimpinan Kepala sekolah dalam mewujudkan pendidikan berkualitas Abad 21

HaluoleoNews.ID, MALAYSIA-  Institut Aminuddin Baki adalah salah satu institusi pendidikan di Malaysia yang mengudang Prof. Dr. Hanna, M.Pd yang merupakan Dosen Pendidikan Bahasa Ingris Universitas Halu Oleo (UHO) sebagai pembicara pada 3rd International Conference  of Educational Leadership and Managemen (Icelam) di Kampus Genting Hailan, Pahang sejak 2- 5 Oktober 2023.

Dalam konferensi yang dihadiri oleh beberapa negara tetangga, Prof Hanna yang juga dosen managemen pendidikan pada Program Pascasarjana (PPs) UHO itu diminta untuk   berbicara tentang peran kepemimpinan kepala sekolah dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas di abad 21 ini.

Tidak bisa dipungkiri, menurut Hanna, Saat ini, dunia tengah memasuki era revolusi industri 4.0 yang lompatannya sangat cepat, tentu membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis saja, tetapi diperlukan kompetensi secara menyeluruh dalam menghadapi dunia digital.

Distruptif teknologi Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan komputer super, kecerdasan buatan atau intelegensi artifisial. Kita bisa prediksi akan banyak pekerjaan hilang digantikan dengan robot atau kecerdasan buatan. Namun juga menjadi peluang karena banyak bidang pekerjaan baru yang muncul.

Tantangan pendidikan ke depan adalah bagaimana menyiapkan sumber daya manusia yang tidak akan tergantikan dengan mesin tersebut, tambahnya. Menghadapi tantangan tersebut, pendidikan perlu mempersiapkan sumber daya yang memiliki kompetisi tersebut.

Saat ini pekerjaan yang bersifat rutin dan harian sudah banyak diambil alih mesin. Ke depan pekerjaan yang masih belum bisa diambil alih oleh mesin dan robot adalah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan dalam melakukan analisa, mengambil keputusan atau berkolaborasi, sehingga beberapa kompetensi  yang dibutuhkan mempersiapkan era industry 4.0 diantaranya adala kemampuan memecahkan masalah (problem solving), beradaptasi (adaptability), kolaborasi (collaboration), kepemimpinan (leadership), dan kreatifitas serta inovasi (creativity and innovation).

Peran pendidik untuk generasi digital harus mampu melahirkan peserta didik yang terus menjadi ‘manusia pembelajar’ atau long life learner. Dunia pendidikan saat ini sedang menghadapi tantangan perubahan era revolusi industri 4.0. Substansinya bahwa tantangan kepemimpinan kepala sekolah saat ini adalah bagaimana memimpin sekolah dalam menghadapi perubahan tersebut. Tidak dapat dihindari, bahwa perubahan yang terjadi berimplikasi pada aspek kompetensi dan karakter psikologi lulusan.

Generasi milineal menjadi identitas generasi abad ini seiring dengan revolusi industri. Berbagai “attitude” generasi milenial telah dijelaskan oleh peneliti – peneliti. Hasilnya, mengungkapkan dinamika identitas yang beragam mulai dari psikologi kepribadian yang cenderung melihat harga diri sebagai sesuatu yang tinggi sampai pada ketergantungan pada teknologi.

Tidak semua upaya perubahan difokuskan pada sikap atau peran. Tipe lain dari perubahan adalah teknologi yang digunakan untuk melakukan pekerjaan. Banyak organisasi telah berubah membuktikan kinerja dengan menerapkan informasi baru dan sistem pendukung keputusan. Contohnya termasuk workstation jaringan, sistem informasi sumber daya manusia, sistem pemrosesan pesanan dan ventory, sistem pelacakan penjualan, atau Intranet dengan groupware untuk komunikasi dan berbagi ide di antara karyawan.

Perubahan semacam itu sering gagal menghasilkan manfaat yang diinginkan, karena tanpa perubahan konsisten dalam pekerjaan peran, sikap, dan keterampilan, teknologi baru tidak akan diterima dan digunakan dalam cara efektif. Bush (2008) mengemukakan bahwa kepemimpinan sering dikaitkan dengan peningkatan sekolah. Hampir dua dekade, menekankan pentingnya kepemimpinan yang luar biasa selalu muncul sebagai karakteristik utama sekolah yang luar biasa.

Tidak ada keraguan lagi bahwa mereka mencari mutu dalam pendidikan harus memastikan kehadirannya dan bahwa pengembangan pemimpin potensial harus diberi prioritas tinggi (Bush, 1992). Keyakinan para peneliti pendidikan telah berubah, dan sekarang ada lebih banyak meneliti dan perlu dipahami tentang apakah, sampai sejauh mana, dan bagaimana, para pemimpin berdampak pada hasil sekolah.

Kepemimpinan dan manajemen yang efektif semakin dianggap penting jika sekolah dan perguruan tinggi  ingin mencapai tujuan luas yang ditetapkan untuk mereka banyak pemangku kepentingan mereka, terutama pemerintah yang menyediakan sebagian besar pendanaan untuk lembaga pendidikan publik. Dalam ekonomi yang semakin global, tenaga kerja terdidik sangat penting untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saing.

Masyarakat mengharapkan sekolah, akademi dan universitas untuk mempersiapkan orang-orang untuk bekerja dalam lingkungan yang berubah dengan cepat. Guru, dan para pemimpin dan manajer mereka, adalah orang-orang yang diminta untuk ‘memberikan’ standar pendidikan yang lebih tinggi. Ada kepercayaan luas yang meningkatkan standar kepemimpinan dan manajemen adalah kunci untuk memperbaiki sekolah.

Hal ini terkait dengan kebutuhan untuk mempersiapkan dan mengembangkan para pemimpin untuk peran mereka yang menuntut. perilaku kepemimpinan sekolah dan mempertimbangkan bukti pada keefektifan relatif mereka dalam mempromosikan peningkatan sekolah. Tantangan hari ini dalam kepemimpinan pendidikan adalah bagaimana para pemimpin sekolah dapat berpikir kritik dan berpikir tingkat tinggi sehingga lulusan mampu menghadapi era milenial dan  merespon setiap  perubahan yang terjadi sebagai implikasi perkembangan ilmu dan teknologi secara positif.

Pemimpin sekolah (kepala sekolah) harus mampu menyadari hakekat tugas sebagai kepala sekolah, mengidentifikasi, mengkombinasikan berbagai  type – type pemimpinan dan mampu mengintegrasikan kompetensi pemimpin abad 21 sehingga mampu untuk berpikir pada level tingkat tinggi dalam melaksanakan kepemimpinannya. Dengan mengimplementasikan manajemen kepemimpinan berbasis berpikir tingkat tinggi diharapkan secara khusus mampu menyiapkan siswa untuk menghadapi era milenial dan secara umum meningkatkan mutu pendidikan pada era milenial ini.

Tantangan-tantangan yang akan menjadi kendala dalam mewujudkan pendidikan berkualitas sudah dimulai sejak masa kepemiminan Nusa  dengan mengedepankan kompetensi kepala sekolah dari berbagai program strategis yang mestinya  menjadi Rujukan oleh pemerintah daerah.

Pemerintah Konawe Utara melalui Konasara telah membuktikan bagaimana program pendidikan menjadi utama. Kata Bupati Konawe Utara Jika mau melihat daerah berkembang lihat bagaimana pendidikannya kualitas kinerja para kepala sekolah dan dan fasilitasnya. Oleh karena itu pemerintah Konawe Utara dengan konsep konasara memeberikan pelayanan yang prima dalam pendidikan dengan memfasilitasi guru-guru fasilitas penunjang pembelajaran, bukan hanya hanya itu Konawe Utara memberikan pendidikan gratis bagi selurih warga konwe utara. (rls)

Follow Publikasi Kami di Google News: Klik Haluoleo News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *