Indonesia sejak lama dikenal sebagai negara kepulauan terbesardi dunia. Lebih dari 17 ribu pulau terbentang dari Sabang sampai Merauke, dihubungkan oleh laut yang menjadi jalurperdagangan, distribusi pangan, mobilitas manusia, serta denyutekonomi nasional. Letak strategis di antara Samudra Hindia dan Pasifik menjadikan Indonesia simpul penting perdaganganglobal. Namun keterbukaan itu juga membawa risiko yang sering luput dari perhatian: ancaman hayati melalui jalur laut.
Selama ini, kedaulatan nasional kerap dipahami sebataspenjagaan wilayah, kekuatan militer, dan pengamananperbatasan. Padahal, ancaman modern tidak selalu datang dalambentuk senjata. Ia dapat hadir dalam bentuk hama tanaman, penyakit hewan, organisme invasif, patogen baru, pencemaranbiologis, hingga perdagangan ilegal komoditas hayati. Karena itu, biosecurity maritim harus dipandang sebagai instrumenstrategis negara dalam menjaga kedaulatan.
Biosecurity maritim adalah sistem pencegahan, pengawasan, deteksi, dan penanganan risiko biologis yang masuk melaluikapal, pelabuhan, logistik, perdagangan laut, maupun mobilitasmanusia antarnegeri. Tujuannya melindungi sektor pangan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi nasional dari ancamanbiologis lintas batas.
Peluang Besar Indonesia
Indonesia sesungguhnya memiliki peluang besar menjadikekuatan biosecurity maritim di kawasan Asia Pasifik. Pertama, posisi geografis Indonesia sangat strategis karena berada di jalurperdagangan dunia. Jika mampu membangun sistem keamananhayati yang kuat, Indonesia dapat menjadi standar baru tata kelola pelabuhan sehat dan aman di kawasan.
Kedua, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat tinggi. Laut, hutan mangrove, terumbu karang, plasma nutfahpertanian, dan sumber daya genetik nasional merupakan modal besar yang harus dilindungi. Negara dengan kekayaan hayatitinggi justru memiliki kepentingan paling besar terhadapbiosecurity.
Ketiga, pembangunan infrastruktur maritim dalam satu dekadeterakhir memberi fondasi penting. Modernisasi pelabuhan, penguatan tol laut, digitalisasi logistik, dan peningkatankonektivitas antarwilayah dapat menjadi pintu masuk integrasisistem pengawasan biologis berbasis teknologi.
Keempat, bonus demografi dan pertumbuhan SDM mudaIndonesia membuka peluang pengembangan tenaga ahli baru di bidang biosurveillance, karantina modern, data science, epidemiologi maritim, dan teknologi sensor pelabuhan.
Kelima, meningkatnya perhatian global terhadap pandemi, perubahan iklim, dan keamanan pangan menjadikan isubiosecurity semakin relevan. Indonesia dapat memanfaatkanmomentum ini untuk memperkuat diplomasi maritim sekaligusmenarik investasi teknologi keamanan hayati.
Tantangan Nyata di Lapangan
Meski peluangnya besar, tantangan Indonesia tidak ringan.
Pertama, luas wilayah laut Indonesia sangat besar, sementarajumlah pintu masuk resmi dan tidak resmi juga banyak. Pengawasan terhadap pelabuhan kecil, pelabuhan rakyat, dan jalur tikus masih menjadi celah masuk organisme berbahaya.
Kedua, koordinasi antarlembaga sering belum optimal. Isu biosecurity menyentuh kewenangan karantina, bea cukai, pelabuhan, kementerian pertanian, kelautan, kesehatan, lingkungan hidup, pemerintah daerah, hingga aparat keamanan. Tanpa komando dan integrasi data yang kuat, respons akanlambat.
Ketiga, kapasitas laboratorium dan deteksi dini belum merata. Banyak wilayah strategis maritim masih terbatas pada fasilitasuji cepat, tenaga analis, maupun sistem identifikasi organismeberisiko tinggi.
Keempat, kesadaran pelaku usaha masih beragam. Sebagian importir, operator kapal, dan logistik masih memandangprosedur biosecurity sebagai beban administratif, bukaninvestasi perlindungan ekonomi.
Kelima, perubahan iklim memperumit situasi. Kenaikan suhu, perubahan arus laut, cuaca ekstrem, dan pergeseran habitat dapatmempercepat penyebaran hama, penyakit, dan spesies invasifbaru di wilayah Indonesia.
Keenam, ancaman digital juga muncul. Perdagangan daring memudahkan peredaran benih, hewan, atau bahan biologis ilegalyang sulit terdeteksi melalui sistem konvensional.
Mengapa Ini Menyangkut Kedaulatan?
Ketika hama baru merusak sentra pangan nasional, negara menanggung beban impor. Ketika penyakit hewan merebak, peternak terpukul. Ketika ekosistem pesisir rusak akibat spesiesinvasif, nelayan kehilangan sumber penghidupan. Ketika wabahzoonosis masuk melalui rantai perdagangan, kesehatan publikterancam. Semua itu pada akhirnya melemahkan kedaulatan.
Artinya, pertahanan negara hari ini tidak hanya berada di lautdan udara, tetapi juga pada kemampuan mencegah ancamanbiologis sebelum menyebar.
Contoh Kasus yang Menjadi Pelajaran
1. Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
Kasus PMK pada ternak menunjukkan betapa rentannya sistempengawasan terhadap penyakit hewan menular. Dampaknyabukan hanya kesehatan ternak, tetapi juga harga daging, distribusi hewan, dan pendapatan peternak. Dalam konteksmaritim, lalu lintas hewan dan produk hewan antarwilayahkepulauan mempercepat penyebaran jika pengawasan lemah.
2. African Swine Fever (ASF)
Wabah ASF menyebabkan kematian tinggi pada babi di sejumlah wilayah Indonesia. Kerugian ekonomi dirasakanpeternak rakyat dan industri. Ini menjadi contoh bahwa penyakitlintas negara dapat masuk dan menyebar cepat melalui rantailogistik.
3. Serangan Fall Armyworm pada Jagung
Hama Spodoptera frugiperda atau ulat grayak jagung menyebarcepat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Serangan inimenurunkan produktivitas jagung dan meningkatkan biayapengendalian. Kasus ini menunjukkan ancaman organismeinvasif terhadap ketahanan pangan.
4. Kerusakan Ekosistem oleh Spesies Asing Invasif
Di berbagai negara, perpindahan organisme laut melalui air ballast kapal telah memicu ledakan spesies invasif yang mengganggu perikanan lokal dan ekosistem. Indonesia berisikomenghadapi hal serupa bila pengawasan pelabuhan dan kapaltidak ketat.
5. Pandemi COVID-19
Walau bukan semata isu maritim, pandemi membuktikan bahwamobilitas global manusia dan barang dapat melumpuhkanekonomi nasional dalam waktu singkat. Pelabuhan, bandara, dan pintu masuk negara menjadi garda depan biosecurity.
Arah Kebijakan Indonesia ke Depan
Untuk menjadikan biosecurity maritim sebagai strategi kedaulatan nasional, Indonesia perlu arah kebijakan yang tegasdan terukur.
1. Menjadikan Biosecurity sebagai Agenda StrategisNasional
Isu keamanan hayati harus masuk dalam dokumen perencanaanpembangunan, strategi ketahanan nasional, dan kebijakanmaritim Indonesia. Dengan demikian, biosecurity tidak lagidipandang sektoral, tetapi lintas kementerian.
2. Modernisasi Sistem Karantina Pelabuhan
Pelabuhan utama dan titik rawan perlu dilengkapi teknologiinspeksi cerdas, sensor biologis, laboratorium molekuler, sertasistem risk profiling berbasis data. Pemeriksaan harus cepat, akurat, dan tidak menghambat arus logistik legal.
3. Integrasi Satu Data Biosecurity Nasional
Seluruh data lalu lintas komoditas, kapal, temuan organisme, status wabah global, dan risiko impor harus terhubung dalamsatu platform nasional yang bisa diakses lintas instansi.
4. Penguatan SDM dan Riset
Indonesia perlu memperbanyak ahli biosecurity, epidemiologi, entomologi, patologi tumbuhan, kesehatan ikan, dan forensikhayati. Kampus dan lembaga riset harus diberi ruang besar untukinovasi deteksi dini.
5. Pendekatan Berbasis Wilayah Kepulauan
Kebijakan untuk Tanjung Priok tentu berbeda dengan Maluku, Papua, Sulawesi, atau Natuna. Maka biosecurity harus disusunberbasis koridor maritim dan karakter wilayah.
6. Diplomasi dan Kerja Sama Regional
Ancaman biologis tidak mengenal batas negara. Indonesia perluaktif membangun standar bersama ASEAN dan Indo-Pasifikterkait pertukaran data wabah, inspeksi kapal, dan pengendalianspesies invasif.
7. Edukasi Publik dan Pelaku Usaha
Masyarakat pesisir, nelayan, petani, importir, eksportir, dan operator pelabuhan harus menjadi bagian dari sistemkewaspadaan nasional. Negara tidak bisa bekerja sendiri.
Saatnya Melihat Ancaman yang Tak Kasat Mata
Indonesia memiliki visi sebagai poros maritim dunia. Namunporos maritim tidak cukup dibangun dengan dermaga megah, kapal besar, dan jalur logistik cepat. Dibutuhkan pertahanan takkasat mata yang melindungi seluruh rantai ekonomi maritim dariancaman biologis. Negara maju telah menempatkan biosecurity sebagai bagian penting keamanan nasional. Indonesia tidakboleh menunggu krisis pangan, wabah, atau kerusakanekosistem untuk bergerak. Menjaga laut bukan hanya menjagabatas wilayah, tetapi juga menjaga isi kehidupan di dalamnya. Dan menjaga biosecurity maritim pada akhirnya adalah menjagamasa depan serta kedaulatan Indonesia. (*)












