Tidak hanya sebagai penghasil nikel laterit, batuan ultramafik Kolaka juga berpotensi sebagai penyimpan karbon

HaluoleoNews.ID, KENDARI- Peningkatan emisi karbon dioksida (CO₂) ke atmosfer telah menjadi tantangan besar yang memicu perubahan iklim global. Aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil, mempercepat akumulasi karbon di atmosfer hingga mencapai level kritis.

Salah satu solusi yang menjanjikan adalah teknologi penyimpanan karbon, baik melalui injeksi karbon ke dalam reservoir geologi seperti akuifer dalam maupun melalui proses karbonasi mineral.

Karbonasi mineral melibatkan reaksi kimia antara CO₂ dan mineral tertentu dalam batuan, mengubah karbon bebas menjadi mineral dengan senyawa yang stabil dan tersimpan secara aman dalam jangka panjang.

Di Sulawesi Tenggara, sebuah penelitian inovatif dilakukan oleh tim dosen Universitas Halu Oleo yang diketuai oleh Deniyatno, S.Si., M.T., bersama Masri, S.Si., M.T., Rio Irhan Mais Cendrajaya, S.Si., M.T., dan Wahab, S.Si., M.T. Penelitian ini berfokus pada batuan ultramafik di Kolaka, Sulawesi Tenggara, khususnya peridotit, karena kandungan mineralnya yang tinggi akan magnesium, yang diketahui sangat reaktif terhadap gas CO₂.

Kompleks Ultramafik Kolaka dipilih karena potensi geologisnya yang unik, termasuk keberadaan rekahan alami yang meningkatkan reaktivitas batuan terhadap karbonasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa batuan peridotit Kolaka telah mengalami karbonasi, yang ditandai oleh keberadaan mineral karbonat seperti magnesit dan kalsit. Para peneliti menggunakan metode analisis petrografi dan mineragrafi untuk mengamati sampel batuan yang diambil dari lokasi penelitian.

Tampak dekat batuan peridotit yang telah terserpentinisasi di Gunung Batu, Kolaka. Urat-urat magnesit (berwarna putih) terlihat jelas, menunjukkan telah berlangsungnya proses karbonasi mineral.

Mikrofotografi menunjukkan bahwa mineral olivin dan piroksen dalam peridotit telah berubah menjadi serpentin dan magnesit, yang merupakan indikasi proses karbonasi. Analisis geokimia menggunakan X-Ray Difraction, X-Ray Fluorescence (XRF), dan Scanning Electron Microscope (SEM-EDS) mengonfirmasi keberadaan senyawa magnesium karbonat yang signifikan.

Proses ini tidak hanya mengikat karbon, tetapi juga mempengaruhi tekstur batuan, seperti penurunan kekuatan batuan dan peningkatan sifat magnetic batuan. Meskipun hasil ini sangat menjanjikan, tantangan besar masih ada dalam pengembangan teknologi karbonasi mineral.

Salah satu tantangan utama adalah memahami kinetika reaksi skala lapangan, mengingat bahwa karbonasi mineral dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tekanan, temperatur, dan komposisi mineral. Selain itu, efisiensi metode injeksi karbon untuk mempercepat karbonasi batuan perlu ditingkatkan melalui penelitian lebih lanjut.

Universitas Halu Oleo berkomitmen kuat untuk melanjutkan penelitian ini. Langkah berikutnya mencakup pengujian sifat fisik dan mekanik batuan ultramafik, simulasi skala laboratorium untuk injeksi karbon, serta evaluasi kelayakan implementasinya di lapangan.

Penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim, tetapi juga memberikan peluang bagi pemanfaatan lahan pascatambang nikel laterit secara berkelanjutan di Kabupaten Kolaka.

Dengan pendekatan yang konsisten dan kolaborasi lintas disiplin, penelitian karbonasi mineral di Kolaka memiliki potensi besar untuk menjadi solusi lokal yang signifikan dalam pengurangan emisi karbon. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa sumber daya geologi Indonesia dapat dimanfaatkan untuk pelestarian lingkungan secara berkelanjutan. (Adv)

Follow Publikasi Kami di Google News: Klik Haluoleo News    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *