HaluOleoNews.ID, KENDARI – Mengawali tahun 2026, dosen Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) Universitas Halu Oleo (UHO) kembali melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Mempertahankan Nilai Budaya dan Agama untuk Pengelolaan Hutan Lestari bagi Mahasiswa Angkatan 2024 yang Bermartabat dan Berkarakter dalam Bina Corps Rimbawan (BCR) XXI di FHIL UHO”. Kegiatan ini berlangsung di Aula FHIL UHO, Minggu (11/1/2026).
PKM tersebut menjadi bagian integral dari rangkaian kegiatan Bina Corps Rimbawan (BCR) XXI yang ditujukan bagi mahasiswa baru Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan angkatan 2024. Kegiatan dimoderatori oleh Muhammad Randra Yusman Meknur dan diikuti sebanyak 138 peserta, yang terdiri atas enam dosen pemateri, perwakilan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulawesi Tenggara, KPHP Gularaya, Mapsurcom, mahasiswa angkatan 2024 sebanyak 81 orang, serta 48 orang panitia mahasiswa.
Salah satu pemateri, Dr (Candidat) La Ode Agus Salim, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa mahasiswa kehutanan merupakan salah satu pilar penting pembangunan bangsa dan negara. Menurutnya, sumber daya manusia di bidang kehutanan diharapkan mampu menunjang perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa potensi mahasiswa tidak akan berkembang secara optimal apabila tidak disiapkan secara mental dan fisik sejak dini. Dalam fase pencarian jati diri, mahasiswa kerap mencoba hal-hal baru yang tidak jarang berujung pada kesalahan dalam menentukan sikap dan langkah hidup.
“Tidak sedikit mahasiswa yang mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya, tetapi ada juga yang justru terjerembab pada hal-hal negatif. Karena itu, diperlukan kegiatan pembinaan sejak dini agar mahasiswa menjadi kuat secara jiwa dan fisik, serta memiliki pengetahuan yang mumpuni di bidang kehutanan,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa pembinaan mahasiswa tidak cukup hanya melalui orientasi pengenalan kampus atau pendidikan karakter yang bersifat teoritis. Dibutuhkan kegiatan kemahasiswaan yang terstruktur, berbasis keilmuan, pembinaan karakter, serta penguatan mental dan fisik. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Bina Corps Rimbawan (BCR).
BCR merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan bagi mahasiswa baru kehutanan di berbagai universitas di Indonesia, termasuk di FHIL UHO. Dalam kegiatan ini, mahasiswa dibimbing melalui perpaduan aktivitas dalam ruangan dan luar ruangan, meliputi pemberian materi dasar ilmu kehutanan, latihan mental dan fisik, serta pengenalan langsung terhadap alam dan lingkungan hutan.

Menurut La Ode Agus Salim, pelaksanaan BCR sangat penting karena menanamkan kecintaan terhadap hutan sejak dini, yang dipadukan dengan pemahaman dasar keilmuan kehutanan. Selain itu, mahasiswa juga dibekali nilai-nilai budaya dan spiritual agar memiliki kepedulian terhadap kelestarian hutan dan lingkungan, serta kesiapan fisik untuk mengabdi di sektor kehutanan yang menuntut ketangguhan.
Dalam materinya yang berjudul “Mempertahankan Nilai Budaya dan Agama untuk Pengelolaan Hutan Lestari”, ia menyoroti tantangan globalisasi yang semakin masif dan nyaris tanpa sekat. Arus informasi yang begitu cepat membuat generasi muda mudah terpapar budaya luar yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa. Padahal, nilai budaya pada hakikatnya lahir dan berakar dari nilai-nilai agama.

Ia mengutip sejumlah petuah adat dari berbagai etnis di Sulawesi Tenggara, seperti Muna, Tolaki, dan Buton, yang pada intinya menekankan pentingnya menjaga adat, agama, dan keharmonisan sosial sebagai fondasi kehidupan. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, relevan dalam konteks pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Lebih lanjut, ia mengaitkan kerusakan lingkungan dan bencana alam yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia dengan perilaku manusia yang tidak ramah terhadap alam, seperti penebangan liar, pertambangan yang tidak terkendali, serta alih fungsi hutan. Hal ini, katanya, sejalan dengan peringatan dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan di darat dan laut akibat ulah manusia.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap lahir Rimbawan Muda yang berada di garda terdepan dalam menjaga dan melindungi hutan sebagai amanah besar dari Allah SWT. Manusia sebagai khalifah di muka bumi boleh memanfaatkan alam, tetapi tidak boleh berlebihan dan harus sesuai dengan koridor kelestarian,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya paradigma pengelolaan hutan lestari yang tidak hanya berorientasi pada pemanenan, pengolahan, dan pemasaran hasil hutan, tetapi juga mencakup pembangunan, pemeliharaan, penjagaan, dan pengawasan hutan. Dalam konteks kekinian, pengelolaan hutan juga harus melibatkan masyarakat sekitar melalui pendekatan Kehutanan Sosial guna mewujudkan kesejahteraan bersama, sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945.
Melalui sinergi antara panitia BCR XXI dan para dosen FHIL UHO, kegiatan PKM ini diharapkan mampu menjadi inspirasi sekaligus pedoman bagi mahasiswa baru angkatan 2024. Dengan bekal nilai budaya, agama, ilmu pengetahuan, serta ketangguhan mental dan fisik, mahasiswa kehutanan diharapkan tumbuh menjadi rimbawan yang berkarakter, profesional, dan peduli terhadap kelestarian hutan dan lingkungan. (Red)






