Angin laut berembus pelan di perairan Pulau Wawonii pada suatu masa di pertengahan 1960-an. Di atas perahu layar sederhana yang bergerak mengikuti arah angin, seorang anak kecil ikut bersama keluarganya menyeberang menuju Kendari.
Ia belum memahami sepenuhnya apa yang terjadi di sekelilingnya, tetapi pengalaman itu kelak menanamkan sebuah janji batin yang membentuk jalan hidupnya. Anak itu adalah Andi Sumangerukka yang kini dikenal sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara.
Kenangan dari Pulau Wawonii
Kisah ini bermula pada tahun 1965. Saat itu, ASR sapaan Andi Sumangerukka baru berusia dua tahun ketika mengikuti ayahnya, Andi Baso Syam Daud, seorang perwira militer berpangkat Letnan Satu yang ditugaskan ke Sulawesi Tenggara.
Tak lama kemudian, sang ayah yang telah berpangkat Kapten dipercaya oleh Gubernur Sulawesi Tenggara saat itu, Eddy Sabara, untuk menjadi camat di Pulau Wawonii.
Di pulau itulah keluarga mereka tinggal selama sekitar tiga setengah tahun. Masa kecil ASR pun diwarnai kehidupan sederhana masyarakat pesisir yang hidup dalam keterbatasan, tetapi sarat ketulusan.
Setiap kali sang ayah hendak menyeberang ke Kendari, warga Wawonii dengan sukarela menyiapkan perahu layar. Tidak ada mesin tempel. Perjalanan sepenuhnya bergantung pada kekuatan angin.
Jika angin bersahabat, perjalanan bisa lebih cepat. Namun jika angin enggan bertiup, perjalanan bisa memakan waktu berhari-hari.
Yang paling membekas bagi ASR bukanlah lamanya perjalanan itu, melainkan ketulusan masyarakat yang membantu tanpa pamrih.
Mereka tidak pernah meminta bayaran. Bahkan ketika keluarga camat tiba di tujuan, warga justru menjamu mereka dengan makanan seadanya.
Kenangan itu melekat kuat hingga kini.
“Bapak saya meninggal, belum sempat membalas kebaikan mereka,” kenang ASR suatu ketika.
Jalan Panjang Seorang Prajurit
Mengikuti jejak sang ayah, ASR kemudian memilih jalur militer. Ia menempuh pendidikan di Akademi Militer (dulu dikenal sebagai AKABRI) dan lulus pada tahun 1987.
Karier militernya berkembang pesat. Ia dikenal sebagai perwira yang disiplin, sederhana, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Puncaknya, ia dipercaya menjabat sebagai Panglima di Kodam XIV Hasanuddin, salah satu komando militer strategis di kawasan timur Indonesia.
Di kalangan prajurit, ASR dikenal dengan prinsip hidup yang sederhana.
“Bersedekah adalah kebahagiaan saya,” begitu prinsip yang sering ia sampaikan.
Memimpin Tanpa Fasilitas
Ketika kemudian dipercaya memimpin Sulawesi Tenggara sebagai gubernur, prinsip hidup itu tidak berubah. Justru ia menjadikannya sebagai dasar dalam memimpin pemerintahan.
Di tengah kondisi fiskal daerah yang terbatas dan berbagai tantangan pembangunan, ASR mengambil langkah yang tidak biasa.
Ia memutuskan untuk tidak menerima berbagai fasilitas negara yang melekat pada jabatan gubernur. Mulai dari gaji, tunjangan, hingga berbagai hak materiil lainnya. Keputusan itu bukan sekadar simbol.
Ia bahkan rela menggunakan milik pribadinya untuk membantu menutup celah keterbatasan fiskal agar sejumlah program pembangunan tetap berjalan.
Bagi ASR, masyarakat tidak bisa menunggu terlalu lama.
Di balik langkah tersebut, ia memegang satu filosofi sederhana yang sering ia sampaikan.
“Ikan busuk dimulai dari kepalanya.”
Artinya, jika pemimpin berada di jalan yang salah, maka sistem di bawahnya pun akan ikut rusak. Sebaliknya, jika pemimpin menjaga integritas, maka aparatur di bawahnya diharapkan mengikuti.
Pesan itu ingin ia sampaikan kepada seluruh jajarannya: integritas harus dimulai dari pucuk pimpinan.
Membenahi Rumah Sendiri
Di awal masa pemerintahannya, ASR menyadari bahwa pembangunan tidak bisa hanya bergantung pada besarnya anggaran.
Tata kelola yang bersih dan strategi yang tepat jauh lebih menentukan.
Dari hasil penelusuran awal, ia menemukan setidaknya sekitar 800 aset milik pemerintah provinsi yang bermasalah. Ada yang dikuasai pihak lain, ada yang dokumennya hilang, hingga arsip yang tidak tertata dengan baik. Bagi ASR, aset daerah adalah modal dasar pembangunan.
Karena itu, penataan aset menjadi salah satu fokus awal pemerintahannya. Aset yang statusnya sudah “clean and clear” diprioritaskan untuk ditata dan dimanfaatkan secara optimal.
Jika aset-aset tersebut dapat kembali dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah, ketergantungan terhadap transfer dana dari pemerintah pusat dapat berkurang.
Empat Pilar Masa Depan
ASR juga melihat masa depan ekonomi Sulawesi Tenggara dengan pandangan yang realistis.
Selama ini, sektor pertambangan menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi daerah. Namun ia sadar, sumber daya alam tidak selamanya tersedia.
Suatu saat, tambang akan habis.
Karena itu, menurutnya, pembangunan sumber daya manusia harus menjadi prioritas.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya konektivitas wilayah melalui pembangunan infrastruktur, serta ketahanan pangan yang kuat berbasis potensi agromaritim daerah.
Dari pemikiran itu, ia menetapkan empat prioritas utama pembangunan Sulawesi Tenggara: pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan ketahanan pangan berbasis agromaritim.
Ulang Tahun dan Sebuah Janji
Hari ini, 11 Maret, menjadi momen istimewa bagi Andi Sumangerukka. Ia merayakan hari kelahirannya di tengah tanggung jawab besar memimpin Sulawesi Tenggara.
Usia boleh bertambah, tetapi semangat pengabdiannya tetap berpijak pada kenangan masa kecil di Pulau Wawonii—tentang warga yang memberi dengan tulus meski hidup dalam keterbatasan.
Di sanalah sebuah janji batin lahir.
Janji untuk suatu hari membalas kebaikan rakyat dengan cara yang ia bisa: bekerja, membangun, dan menjaga pemerintahan tetap bersih.
Sebuah jalan sunyi yang ia pilih—tanpa fasilitas negara demi memastikan “kepala ikan” tetap bersih.
Dan bagi ASR, perjalanan untuk menepati janji itu masih terus berlangsung. (Red)












