HaluOleoNews.ID, KENDARI – Pulau Sumatera kini menghadapi bencana ganda. Selain banjir bandang yang meluas di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, hingga Sumatera Selatan, masyarakat juga dibayangi ancaman serius krisis kesehatan. Laporan paling memilukan datang dari Aceh Tamiang, khususnya Kecamatan Sekerak, di mana warga mencium bau menyengat yang diduga berasal dari jenazah korban banjir yang masih tertimbun material puing dan lumpur.
Situasi darurat ini memunculkan kekhawatiran baru, terutama terkait potensi penyebaran penyakit. Dosen Farmasi Universitas Muhammadiyah Kendari (UMKendari), Mualif Arsyad, S.KM., M.Epid, menegaskan bahwa banjir harus dipahami sebagai trigger event yang mengubah kondisi lingkungan secara drastis, sehingga meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap berbagai penyakit menular maupun tidak menular.
“Banjir memicu perubahan ekologi secara mendadak. Ketika air meluap dan bercampur dengan limbah rumah tangga, kotoran, serta bangkai hewan, maka terbentuklah medium ideal bagi waterborne diseases. Risiko diare akut, kolera, dan hepatitis meningkat tajam, terutama jika masyarakat terpaksa menggunakan air yang tidak layak konsumsi,” jelasnya.
Ia juga memberi perhatian khusus pada ancaman Leptospirosis, terutama di wilayah yang dikenal endemis. Menurutnya, setiap gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, dan mata merah pada warga yang berkontak dengan air banjir harus segera dicurigai. “Penanganan cepat sangat penting agar tidak berkembang menjadi Kejadian Luar Biasa,” tambahnya.
Dalam dua hingga tiga pekan setelah banjir, tantangan baru biasanya muncul, yakni penyakit berbasis vektor. Genangan air sisa banjir kerap menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Hal ini meningkatkan kemungkinan lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Chikungunya. Ia mengingatkan bahwa pengendalian vektor harus dilakukan berbasis data dan bukan sebatas fogging tanpa perhitungan.
Mualif menekankan bahwa kerusakan fasilitas air bersih dan sanitasi adalah isu paling kritis dalam penanganan kesehatan pascabencana. Tanpa pemulihan cepat, risiko penularan penyakit bisa meningkat secara eksponensial. “Penyediaan air bersih darurat, tablet klorin, serta pembangunan MCK sementara merupakan intervensi epidemiologis yang tidak boleh ditunda,” tegasnya.
Selain penyakit infeksi, ia menyoroti kondisi pos-pos pengungsian yang rawan penularan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), terutama karena sirkulasi udara yang buruk dan kepadatan pengungsi. Kelompok rentan, seperti balita, lansia, dan pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes, juga terancam mengalami komplikasi akibat terganggunya akses obat.
Tak hanya itu, dampak psikososial dan kesehatan mental akibat trauma bencana turut menjadi perhatian. Menurutnya, pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut aspek fisik tetapi juga pemulihan mental masyarakat terdampak.
Di akhir penjelasannya, Mualif menegaskan pentingnya sistem surveilans kesehatan darurat untuk melakukan deteksi dini potensi KLB dan memastikan sumber daya kesehatan yang terbatas dapat diarahkan secara efektif.
“Banjir di Sumatera harus menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan sistem kesehatan masyarakat. Fokus jangka pendek harus diarahkan pada penyelamatan jiwa, penyediaan air bersih, penanganan penyakit akut, serta penguatan surveilans,” pungkasnya.












