HaluOleoNews.ID, KENDARI- Universitas Halu Oleo (UHO) kembali menyelenggarakan Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026, bertempat di Claro Hotel Kendari, sejak 12- 14 Januari 2026. Raker tahun ini agak berbeda, dimana Kampus Hijau ini mengundang Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Samangerukka (ASR); dan Dewan Pengawas.
Perguruan Tinggi Negeri terbesar di Bumi Anoa (sebutan untuk Sultra) itu mengundang Gubernur dan Dewas untuk mengetahui potret kinerja dan program UHO satu tahun kedepan. Serta mensinergikan program Pemerintah Daerah (Pemda) Sultra dengan kampus yang dipimpin oleh Dr. Herman, S.H., LL.M itu.
Saat ditemui awak media, Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UHO, Dr. Herman menilai Raker ini sebagai kegiatan tahunan yang sangat strategis. Harapannya selama tiga hari pelaksanaan, seluruh unsur pimpinan dapat membahas secara komprehensif apa yang akan dilakukan dalam satu tahun ke depan.
Oleh karena itu, ia menekankan kepada seluruh pimpinan di UHO agar hadir secara langsung, kecuali terdapat agenda lain yang benar-benar lebih penting. Tiga hari ini (red) akan sangat menentukan kinerja universitas selama satu tahun ke depan.
“Sebagai perguruan tinggi berstatus Badan Layanan Umum (BLU), Universitas Halu Oleo memiliki target kinerja yang harus dipenuhi. Kita memiliki target layanan keuangan kepada Kementerian Keuangan, serta target kinerja lainnya kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisainstek),” ungkapnya, Senin (12/1/2026).
Dengan Kementerian Keuangan, lanjutnya, perbedaannya terletak pada target, namun indikator kinerja relatif sama. Sementara dengan Kemendiktisainstek, terdapat indikator kinerja utama yang berbeda, dan hal ini harus dipahami secara menyeluruh oleh seluruh pimpinan di UHO.
Atas dasar itu, bebernya, Raker 2026 ini dilaksanakan sepenuhnya secara Luar Jaringan (Luring). Jika pada tahun-tahun sebelumnya masih dilakukan secara kombinasi daring dan luring, maka tahun ini ditetapkan Luring penuh. Alasannya, pertama adalah untuk memperkuat silaturahmi, kedua untuk membuka ruang pertukaran ide secara langsung dalam merumuskan strategi pencapaian target kinerja tahun 2026.
Selama ini, pimpinan unit cenderung hanya menerima penugasan dan melaksanakan kontrak kerja. Pada Raker kali ini, pendekatannya berbeda. “Saya memberikan kesempatan kepada dekan dan pimpinan unit untuk mempresentasikan apa yang akan mereka lakukan dalam rangka memenuhi target-target kinerja tersebut. Dengan demikian target yang dibebankan kepada Universitas Halu Oleo, baik dari Kementerian Keuangan maupun Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dapat diwujudkan secara realistis dan bertanggung jawab,” ucapnya.
Pada akhirnya, semua itu akan bermuara pada perjanjian kinerja. Namun, perjanjian tersebut harus diawali dengan presentasi dan diskusi yang matang, bukan sekadar menerima kontrak kerja lalu melaksanakan. Karena itu, dalam Raker ini seluruh pimpinan unit dan fakultas wajib memaparkan rencana, strategi, serta tantangan yang dihadapi.
Dalam Raker tahun 2026 ini, salah satu fokus penting adalah program-program krusial yang berdampak langsung bagi pengembangan UHO depan. Itulah sebabnya Raker diawali dengan rapat Dewan Pengawas (Dewas). Dewas memotret kinerja universitas selama satu tahun secara objektif.
“Saya meminta agar disampaikan apa adanya. Dengan demikian, seluruh pimpinan dapat mengetahui titik-titik kelemahan, apakah itu persoalan capaian yang sulit diwujudkan atau masalah kepatutan dalam tata kelola. Jika menyangkut kepatutan, tentu ini berkaitan dengan komitmen dan kemauan pimpinan, sehingga perlu dilakukan evaluasi tata kelola secara serius,” ujarnya.
Terkait aspek keberdampakan, UHO juga mendorong sinergi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Karena itu, saya berharap Gubernur dapat hadir atau setidaknya diwakili untuk memaparkan kebijakan-kebijakan strategis pemerintah daerah. Tujuannya agar tercipta kolaborasi dan sinergi antara kebijakan universitas dengan kebijakan pemerintah daerah, khususnya dalam konteks pengembangan pesisir dan kelautan, yang menjadi salah satu visi UHO.
Katanya, UHO memiliki banyak tenaga pengajar yang memiliki gelar doktor dengan keahlian spesifik di berbagai bidang. Keahlian-keahlian inilah yang dapat dipetakan dan dimanfaatkan untuk mendukung kinerja pemerintah daerah dan provinsi, sehingga peran perguruan tinggi benar-benar terasa di tengah masyarakat.
“Pada prinsipnya, Pemerintah Provinsi sangat terbuka terhadap kolaborasi ini, meskipun kehadiran langsung Gubernur terkendala agenda yang padat. Raker ini juga menjadi bagian dari refleksi dan persiapan dua tahun ke depan, terutama menjelang suksesi kepemimpinan universitas. Saya tegaskan bahwa sehebat apa pun seorang rektor, tanpa dukungan pimpinan di semua lini dari universitas hingga jurusan, kinerja institusi tidak akan optimal,” tambahnya.
Oleh karena itu, Raker ini dirancang untuk melibatkan seluruh unsur pimpinan agar kerja ke depan menjadi kerja kolektif. Ke depan, peran rektor lebih pada mengkoordinasikan, mengarahkan, dan memberi semangat, sementara pelaksanaan kerja berjalan melalui sistem yang kuat. Dengan sistem yang baik, siapapun yang memimpin UHO di masa depan, roda organisasi akan tetap berjalan secara profesional dan berkelanjutan.
Ketua Panitia, Prof. Dr. Ida Usman, M.Si mengungkapkan bahwa Raker ini merupakan Raker perdana di era kepemimpinan baru, dan sejak awal memang dirancang sebagai bagian dari evaluasi sekaligus refleksi strategis terkait alokasi anggaran serta arah kebijakan UHO ke depan. RAKER ini menjadi fondasi penting dalam menentukan langkah-langkah strategis universitas.
Dalam Raker kali ini, terdapat hal baru yang menjadi perhatian, yakni upaya membangun sinergi antara UHO, Pemerintah Provinsi, dan Tim Percepatan Pembangunan. Bahkan, sejak awal ada keinginan untuk menghadirkan Gubernur sebagai salah satu pemateri. Sebelumnya telah dilakukan pertemuan antara pimpinan universitas dan Gubernur, yang pada prinsipnya menunjukkan komitmen bersama agar kebijakan pemerintah daerah dan UHO dapat berjalan searah dan saling mendukung.
“Meskipun pada pelaksanaan Raker ini Gubernur belum dapat hadir karena agenda lain, niat untuk membangun kolaborasi tersebut tetap menjadi bagian penting dari agenda universitas ke depan. Saat ini memang belum ada program yang dibahas secara sangat spesifik antara Pemerintah Provinsi dan UHO. Namun, ke depan direncanakan akan dilakukan pertemuan lanjutan, termasuk kemungkinan kunjungan langsung ke Gubernur, guna membahas program-program strategis yang dapat melibatkan sivitas akademika UHO dalam mendukung kebijakan dan pembangunan daerah,” jelasnya.
Raker tahun ini juga memiliki perbedaan mendasar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yakni diawali dengan sesi bersama Dewas. Sesuai mekanisme, Dewas sebenarnya melakukan rapat evaluasi rutin setiap akhir bulan. Namun, sesi ini sengaja dirangkaikan dengan Rajer agar seluruh unsur pimpinan, hingga level terbawah, dapat memahami secara utuh peran, fungsi, dan hasil evaluasi Dewas terhadap kinerja universitas.
Dalam sesi tersebut, Dewas memaparkan evaluasi kinerja UHO secara terbuka. Meskipun Ketua Dewas berhalangan hadir, paparan tetap disampaikan oleh anggota Dewas, sehingga pesan dan substansi evaluasi tetap tersampaikan dengan baik. Seluruh pimpinan universitas mulai dari pimpinan rektorat, dekan, ketua lembaga, kepala unit, hingga koordinator program studi mengikuti kegiatan ini secara penuh.
“Secara substansi, Raker ini membahas empat agenda utama. Pertama, evaluasi capaian kinerja tahun 2025. Kedua, perencanaan kinerja tahun 2026. Ketiga, kontrak kinerja rektor dengan kementerian, yang selanjutnya diturunkan menjadi kontrak kinerja unit. Keempat, pemberian ruang kepada setiap unit untuk mempresentasikan secara langsung capaian dan rencana kerjanya,” tuturnya.
Pendekatan ini berbeda dengan sebelumnya, di mana unit hanya menyampaikan laporan tertulis. Kini, setiap unit diberikan kesempatan untuk menjelaskan capaian, kendala, serta rencana perbaikan. Jika terdapat target yang tidak tercapai pada tahun 2025, maka diharapkan muncul masukan, dukungan, dan solusi lintas unit, agar kendala tersebut tidak terulang pada tahun 2026.
Terkait kontrak kinerja, tidak terdapat sanksi administratif atau hukuman formal bagi unit yang tidak mencapai target. Namun, terdapat sanksi sosial dan moral, karena seluruh capaian kinerja dipaparkan secara terbuka dan dilakukan pemeringkatan kinerja unit. Unit dengan kinerja terbaik akan memperoleh apresiasi dan reward, sementara unit dengan capaian rendah akan menjadi perhatian bersama untuk dilakukan pembinaan.
Pemeringkatan tersebut dilakukan secara objektif berdasarkan beberapa indikator, antara lain capaian kinerja, serapan anggaran, dan bobot penilaian lainnya. Data pemeringkatan tersimpan di unit perencanaan dan biasanya diumumkan pada sesi akhir Raker, sebagai bentuk transparansi dan pembelajaran bersama. (Red)






