Upaya Pemkot Kendari Tertibkan Anjal dan Manusia Silver Kian Diperketat

HaluOleoNews.ID, KENDARI- Pemerintah Kota Kendari kembali turun ke jalan, Rabu (29/4/2026) malam. Bukan untuk seremoni, melainkan merespons persoalan yang terus berulang: maraknya aktivitas anak jalanan (anjal), pengemis, pedagang asongan, hingga manusia silver di persimpangan lampu merah.

Operasi yang melibatkan Dinas Sosial dan Satpol PP itu dimulai sekitar pukul 21.00 Wita, menyasar enam titik yang selama ini dikenal sebagai “zona ramai” aktivitas jalanan. Di tengah arus lalu lintas yang padat, keberadaan mereka dinilai kian berisiko—bukan hanya bagi pengguna jalan, tapi juga bagi diri mereka sendiri.

Petugas bergerak cepat dan relatif senyap. Tanpa pendekatan represif, mereka menyisir titik-titik rawan dan mengamankan individu yang berada di lokasi. Beberapa sempat mencoba menghindar—pemandangan yang sudah biasa dalam setiap razia—namun kali ini pergerakan mereka lebih mudah dipatahkan.

Salah satu yang turut diamankan adalah sosok manusia silver yang selama ini dikenal sulit ditangkap. Ia kerap lolos dalam razia sebelumnya berkat kelincahan dan kemampuannya membaca situasi. Namun koordinasi yang lebih rapi antarpetugas membuat ruang geraknya kali ini tertutup.

Plt. Kepala Dinas Sosial Kota Kendari, Rukmana, mengatakan penertiban ini bukan sekadar soal menyingkirkan mereka dari jalan. Menurutnya, pendekatan semata-mata penegakan aturan tidak akan menyelesaikan akar persoalan.

“Kalau hanya ditertibkan tanpa ditangani, mereka akan kembali lagi. Kita perlu tahu kenapa mereka ada di jalan,” ujarnya.

Pernyataan itu mencerminkan dilema yang selama ini dihadapi pemerintah daerah: antara menjaga ketertiban kota dan menyelesaikan persoalan sosial yang lebih dalam. Faktor ekonomi, lingkungan, hingga minimnya akses pekerjaan kerap menjadi alasan utama mereka turun ke jalan.

Meski demikian, razia tetap menjadi langkah yang paling terlihat di ruang publik. Satpol PP menegaskan, aktivitas di jalan raya yang mengganggu lalu lintas tidak bisa dibiarkan. Terlebih, praktik seperti manusia silver di lampu merah dinilai berisiko tinggi terhadap keselamatan.

Usai diamankan, para anjal dan manusia silver akan didata dan menjalani asesmen. Pemerintah menjanjikan pembinaan dan pemberdayaan, meski efektivitas program semacam ini kerap dipertanyakan jika tidak dibarengi pengawasan berkelanjutan.

Di sisi lain, pemerintah juga kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak memberikan uang di jalan. Imbauan ini bukan hal baru, namun realitas di lapangan menunjukkan kebiasaan tersebut masih sulit diubah dan justru menjadi salah satu faktor yang membuat aktivitas jalanan terus bertahan.

Razia malam itu mungkin berhasil mengosongkan beberapa persimpangan untuk sementara. Namun tanpa solusi jangka panjang, pola yang sama berpotensi terulang: ditertibkan, dibina, lalu kembali lagi ke jalan.

Persoalan anjal dan manusia silver di Kendari bukan sekadar soal ketertiban, melainkan cermin dari masalah sosial yang lebih kompleks—yang belum benar-benar terselesaikan.

Follow Publikasi Kami di Google News: Klik Haluoleo News    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *