HaluOleoNews.ID, KENDARI — Kapolda Sulawesi Tenggara yang baru, Brigjen Pol. Dr. Himawan Bayu Aji, S.H., S.I.K., M.H menyoroti persoalan aktivitas pertambangan ilegal dan ancaman kejahatan siber yang dinilai menjadi tantangan serius di wilayah Sultra.
Dalam keterangannya kepada awak media, Kapolda menegaskan bahwa penanganan persoalan tambang ilegal tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor dan pertukaran informasi antar stakeholder terkait.
“Kerja sama dengan beberapa stakeholder itu menjadi penting untuk bisa menganalisa dan mengevaluasi sebetulnya apa yang terjadi, sehingga itu menimbulkan berbagai aspek untuk bisa didiskusikan,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi dan sharing informasi menjadi kunci penting untuk mengetahui akar persoalan yang terjadi di lapangan sehingga solusi yang diambil dapat tepat sasaran.
“Ini menjadi poin penting, kerja sama, kemudian sharing informasi itu menjadi penting bagi kita untuk bisa melihat sebetulnya apa yang terjadi, sehingga solusi apa yang tepat diambil,” katanya.
Selain menyoroti aktivitas tambang ilegal, Kapolda juga memberikan perhatian terhadap perkembangan kejahatan siber atau cyber crime yang kini semakin kompleks.
Dengan latar belakang pengalamannya di bidang cyber, Kapolda menjelaskan bahwa kejahatan siber memiliki karakter transnasional dan borderless atau tanpa batas wilayah.
“Pelaku bisa ada di mana saja, kemudian korban juga ada di mana saja,” ungkapnya.
Karena itu, ia menilai pendekatan mitigasi dan edukasi kepada masyarakat menjadi langkah paling penting dalam menghadapi ancaman kejahatan digital tersebut.
Kapolda menekankan pentingnya langkah pre-emptive dan preventive agar masyarakat memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melindungi diri dari berbagai modus kejahatan siber yang terus berkembang.
“Yang terpenting adalah mitigasi, edukasi, tataran pre-emptive dan preventive itu menjadi penting bagi kita bahwa kita menjaga diri kita untuk tidak menjadi korban kejahatan cyber,” tutupnya. (Red)












