Takjub Gua Liang Kabori, BI Sultra Dorong Berwisata dan Tenun Masalili Go Nasional hingga Internasional

HaluOleoNews.ID, MUNA- Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara (Sultra), Edwin Permadi mengungkapkan kekagumannya terhadap kekayaan wisata dan budaya di Kabupaten Muna, khususnya Gua Liang Kabori yang terletak di Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia.

Situs purbakala tersebut dikenal memiliki lukisan prasejarah dan disebut-sebut sebagai salah satu yang tertua di dunia. Menurutnya, potensi wisata di wilayah itu sangat besar dan telah menarik perhatian wisatawan, termasuk dari mancanegara.

Ia menilai masyarakat lokal di Sulawesi Tenggara tidak boleh melewatkan kesempatan untuk mengenal dan mengunjungi warisan budaya tersebut.

“Ini bukan sekadar tempat wisata, tapi bagian dari kebudayaan yang harus kita lestarikan. Perlu didorong dengan berbagai kegiatan dan event agar semakin ramai dikunjungi,” ujarnya.

Ia pun mengaku terkesan saat mengunjungi langsung Gua Liang Kabori. Selama ini, ia hanya melihatnya melalui televisi dan media cetak.

“Rasanya tidak lengkap kalau hanya melihat dari TV atau koran. Begitu datang langsung, ini luar biasa sekali,” tuturnya.

Selain Gua Liang Kabori, ia juga menyebut sejumlah destinasi lain yang tak kalah menarik seperti Puncak Wakila dan kawasan Danau Napabale yang dikenal dengan keunikan alamnya, termasuk danau ubur-ubur yang menjadi daya tarik tersendiri.

Tak hanya wisata alam dan sejarah, ia juga menaruh perhatian besar pada kekayaan budaya lokal, khususnya tenun khas daerah seperti Tenun Masalili. Ia mengaku memiliki ketertarikan tersendiri terhadap motif dan keindahan kain tersebut.

“Saya ke sini juga karena kangen dengan kain-kain Masalili. Ini luar biasa dan sangat potensial untuk dikembangkan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Bank Indonesia Sultra turut berperan dalam pembinaan UMKM, termasuk para perajin tenun. Upaya tersebut dilakukan agar produk lokal mampu menembus pasar yang lebih luas, baik nasional maupun internasional.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah melalui penyelenggaraan festival dan lomba desain yang melibatkan karya-karya tenun lokal. Nantinya, hasil karya terbaik akan dibawa ke ajang yang lebih besar, mulai dari tingkat kawasan timur Indonesia di Mataram, hingga ke tingkat nasional di Jakarta dan Bali, bahkan berpeluang tampil di panggung internasional.

“Kami ingin tenun Masalili ini bisa naik kelas, tidak hanya dikenal di daerah, tapi juga di tingkat nasional hingga internasional,” katanya.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari momen libur panjang yang dimanfaatkan untuk menikmati langsung kekayaan wisata Sulawesi Tenggara, sekaligus memperkuat komitmen dalam mendorong pelestarian budaya serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis lokal. (Red)

Follow Publikasi Kami di Google News: Klik Haluoleo News    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *